To Worship You, I live
Shalom saudara. Selamat hari minggu untuk setiap saudara dan
saudari yang saya kasihi di dalam Tuhanku Yesus Kristus.
Bagaimana kabarmu, saudara? Saya percaya bahwa saudara adalah orang-orang yang bersyukur dengan
setiap cahaya berseri dalam senyum kita. Amin?
Puji Tuhan, hari ini saya rindu bersaksi tentang bagaimana
Yesus berproses dalam setiap sisi kehidupan yang Dia anugerahkan bagi saya,
terkhususnya dalam hubungan saya dengan-Nya.
Tiga minggu terakhir, banyak hal yang saya pikirkan tetang
kebenaran, terlebih tentang ibadah dan cara beribadah yang benar dan berkenan
di hadapan Tuhan. Saat ini, saya sedang berada di tanah rantauan, di Jogja
untuk melanjutkan pendidikan di sini. Saat pertama kali ke Jogja pada Juli
2015, banyak hal yang saya alami, salah satunya hal penting dalam hidup saya yaitu
ibadah. Mengapa saya katakan ini sebagai
hal yang penting? Karena, ketika berada di tempat asal saya, yang paling sering
saya lakukan adalah ibadah. Entah itu di gereja, di tempat-tempat persekutuan,
dan di sekolah, ibadah adalah hal yang selalu membuat saya merasa nyaman.
Singkat cerita, dalam ibadah saya melayani atau menjadi penatalayan dan saya menyukai ibadah. Ya, itulah yang saat ini saya sadari tentang kehidupan saya
sebelumnya.
Ketika berada di kota Jogja, saya mengikuti gereja untuk
pertama kalinya bersama dengan om saya di salah satu gereja jenis karismatik
di Jogja. Dan beberapa kali, saya mengikuti kebaktian di sana. Namun, saat
mulai perkuliahan dan menemui teman-teman baru, saya juga diajakan ke gereja
teman saya, yaitu Gereja Mawar Saron. Dan saya juga berbakti di sana sekitar
dua bulan lebih. Namun, entah mengapa saya merasa ada yang kurang setiap kali
selesai gereja. Di tempat asal, saya adalah anggota jemaat dalam salah satu
gereja reformasi dengan tata ibadah liturgia, dan saya menyadari hal yang
membuat saya merasa kurang ketika berbakti di GMS, adalah setiap kali
kebaktian, tidak ada pengakuan iman rasuli, yang menurut saya, itu mengganjal
dalam hati saya, karena di gereja tempat asal saya, saya sering melakukannya.
Akhirnya, beberapa minggu berlalu, dan saya pada waktu itu terus bertanya pada
Tuhan tentang semua yang saya rasakan. Sampai pada suatu kali, saya mengikuti
kegiatan dari salah satu komunitas di kampus, yang di mana kegiatan itu
lokasinya di dekat salah satu gereja Kristen Indonesia. Saya sangat penasaran
dan saya pun mencari tahu tentang informasi kebaktian gereja tersebut dan mengambil
keputusan untuk berbakti di sana. Minggu
pertama bagi saya untuk mengambil bagian dalam kebaktian di gereja itu pun tiba.
Waktu itu, saya berencana untuk berbakti pada kebaktian kedua, pada pukul
08.00, namun karena adanya keterlambatan dari bus yang saya tumpangi, membuat
saya terlambat dan akhirnya saya mengambil bagian dalam kabaktian ketiga, yaitu
pada pukul 10.00. Dan, puji Tuhan sampai sekarang gereja ini menjadi tempat
bagi saya untuk berbakti setiap minggunya. Jadi, dari semua yang saya alami,
saya menyadari bahwa saya berbakti dengan tata ibadah yang liturgia atau dengan
kata lain saya nyaman dengan tata ibadah gereja-gereja reformasi.
Namun saudara, bagian terpenting yang ingin saya bagikan
adalah bukan tentang ini, bukan tentang perbedaan gereja, bukan tentang tata
cara ibadah tetapi inti dari ibadah itu. Lanjutan dari kesaksian saya adalah,
saya melayani di salah satu komunitas kampus yaitu persekutuan mahasiswa Kristen.
Dan, puji Tuhan saya bertumbuh dalam komunitas ini. Banyak hal yang saya
pelajari, banyak hal yang membuat saya mengerti dan banyak hal mengubah mindset saya tentang ibadah.
Dalam persekutuan ini, saya berjumpa dengan teman-teman
seiman namun berbeda gereja dengan saya. Banyak dari mereka, beraliran
pentakosta, atau yang kita tahu bahwa liturginya bergaya kharismatik. Meski
begitu, saya merasa nyaman dengan
mereka. Walau terkadang, ada banyak hal yang saya pertanyakan tentang keyakinan
mereka dalam bahasa roh, maupun altar call yang di mana ketika seseorang di
jamah akan jatuh (tumbang) dan sebagainya. Walau banyak pertanyaan itu dalam
benak saya, saya adalah orang yang sudah merasakan semua yang menjadi
pertanyaan-pertanyaan bagi diri saya itu. Karena, seperti yang sudah saya
ceritakan sebelumnya kalau saya sangat suka dengan ibadah, ketika seorang teman
mengajak saya untuk beribadah di gereja mereka maupun di
persekutuan-persekutuan mereka, saya tidak menahan diri untuk mengikuti,
sehingga saya pun pernah merasakannya. Tentang bahasa roh, saya pernah
menceritakan kepada salah satu teman saya, yang sekarang sedang ada dalam
pendidikan teologi. Saya menceritakan tentang bahasa roh yang saya rasakan, dan
teman saya sharing kepada saya tentang hal itu, dan yang membuat
saya tidak dapat melupakan tentang apa yang dia ceritakan itu. Inti dari cerita
itu adalah dalam kisah para rasul 2, saat hari pentakosta, “dan tampaklah
kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api dan bertebaran dan hinggap pada
mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai
berkata-kata dalam bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada
mereka untuk mengatakannya.” (Kis 2:3-4) dan yang terpenting itu adalah pada ayat
5-12, yaitu bahasa-bahasa itu adalah bahasa yang ada di dunia yang dapat
dimengerti tentang perbuatan-perbuatan
ALLAH yang besar. Dan, saya masih belum dapat menarik kesimpulan dari hal-hal
ini. Singkat cerita, saya sudah tidak terlalu memikirkan tentang
salah satu hal ini, dan menyakini akan satu kalimat yang memberikan saya
motivasi dan dorongan untuk tidak berhenti beribadah adalah “Ketika Yesus kita
sama, Yesus yang mereka sembah dan yang mereka percaya adalah Yesus yang sama
dengan Yesusku, maka saya tidak menarik diri dari pertemuan-pertemuan itu.”
Beberapa
waktu lalu, saya juga mengambil bagian dalam training worship leader. Dari
training pertama, saya belajar tentang hal yang penting dalam ibadah adalah
ADANYA HADIRAT TUHAN, karena itulah pujian dan penyembahan adalah hal penting
dalam sebuah persekutuan atau ibadah. Hal kedua yang saya dapatkan adalah
tentang penyembahan. Penyembahan adalah sesuatu yang sangat penting. Mengapa?
Karena, penyembahan adalah suatu hal yang sangat mahal. Penyembahan itu mahal,
karena penyembahan itu adalah suatu hal yang sangat di sukai Allah. ALLAH punya
kuasa dalam segala hal dan sangat amat besar dalam segala hal. Namun, satu hal
yang tak dapat dilakukkan Allah adalah menyembah diri-Nya sendiri, sehingga
saat kita menyembah TUHAN, malaikat-malaikat menyaksikan kita. Dan hal terakhir
yang saya dapat dari training yang pertama adalah saya menyadari bahwa “setiap
kali saya menyembah, saya merasakan bagaimana hadirat Tuhan memeluk saya”, dan
yang menjadikan pesan untuk kehidupan saya adalah “ semakin hidup saya intim
dengan Tuhan, maka hidup saya tidak akan sama lagi”. Pada training selanjutnya
adalah training untuk persiapan dalam melayani di PMK. Belajar dari training
ini adalah tentang bagaimana seorang Daud yang sangat berkenan di hadapan
Allah. Allah begitu mengasihi Daud, karena Daud adalah seorang penyembah. Dia
raja atas bangsa Israel, tetapi dia tak pernah lupakan dan lewatkan
waktu-waktunya bersama TUHAN. SO, bagaimana dengan saya?
Akhir dari kesaksian saya kali ini, adalah dari pesan
khotba pada ibadah PMK di kampus kamis kemarin yaitu ibadah sesungguhnya
terjadi setiap hari, dan itu mirip sekali dengan apa yang dikatakan rasul
Paulus kepada jemaat di Roma, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan
Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah
ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)
So, saudara dan saudariku, jika kamu adalah Kristen dari
lahir, dan belum rasakan Tuhan secara pribadi, mintalah Tuhan berproses dalam
hidupmu sampai kamu menyadarinya. Yesus adalah milik pribadi masing-masing,
bukan warisan keturunanmu yang kamu tahu tetapi tidak merasakannya. Ambillah
waktu dari 24 jammu itu untuk “alone with
Him”, hanya engkau dan Dia. Sembahlah Dia dengan sungguh-sungguh dan
biarkan Tuhan campur tangan dalam hidup saudara, karena yang TUHAN inginkan
adalah hubungan, agar DIA dapat berproses dalam hidup kita.
INGAT! Hidup adalah anugerah, jadi janganlah egois. Jangan
pikirkan tentang diri sendiri, pikirkanlah bagaimana Pencipta rela menebus
saudara dan saya. Saya juga masih belajar dalam membangun hubungan yang intim
dengan-Nya, jatuh bangun dan penuh perjuangan melawan keinginan daging, tetapi
saya terus minta Tuhan perbaharui hati saya, mengcover tubuh saya agar saya taat dengan perkataan Roh Kudus dan
jadilah kehendak Tuhan dalam setiap hidup yang sudah Tuhan anugerahkan bagi
saya.
Jangan lupa, menjadi berkat bagi orang lain. Melayani orang
lain dengan sukacita surgawi bukan untuk dipandangan manusia, tetapi karena
Bapa kita di surga telah melakukannya lebih dulu bagi kita.
Dan yang terakhir dari saya, adalah “SADARI KABAR BAIK BUAT
SETIAP KITA, BAHWA KALAU TUHAN MAU PAKAI KITA, DIA TIDAK MELIHAT RIWAYAT HIDUP
KITA, DIA TIDAK PERLU CV kita, SO LET’S BE WORSHIPPER FOR HIM IN EVERY SINGLE
DAY THAT HE GIVES FOR US.”
SHALLOMMM ALEICHEM



Komentar
Posting Komentar