The Writer



Tuhanlah penulis cerita hidupku

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (Mazmur 139:13)
Apa tanggapanmu tentang kalimat di atas? Atau apa yang kamu pikirkan ketika membaca kalimat itu? Biasa saja kah karena kamu pernah membacanya? Atau kamu nggak ngerti? Atau kamu mulai memikirkan sesuatu?
Kalau aku, ketika pertama kali membaca kalimat di atas, aku merasa terharu dan bangga. Entahlah mengapa perasaan itu datang,namun aku merasa seperti kalimat itu memberikan kesan yang sangat berarti bagiku.
Aku lahir dari keluarga Kristen. Papa dan mamaku Kristen, opa dan omaku Kristen dan semua nenek moyangku Kristen. Aku juga tumbuh dalam lingkungan Kristen dalam kebiasaan dan kehidupannya penuh dengan kekristenan. Sebelum makan berdoa, saat ingin tidur berdoa, sebelum  pergi ke suatu tempat berdoa dan setiap apapun yang kami lakukakan didasarkan dengan doa. Dari situlah aku berasal. Lingkungan dan keluargaku mempengaruhi pertumbuhan dan perkembanganku. Aku mulai melayani Tuhan, sejak kecil. Aku bersama teman-temanku bernyanyi di gereja. Kami juga tak jarang melakukan tour pelayanan, yaitu kami bernyanyi di gereja orang lain. Memuji Tuhan adalah makanan sehari-hari ku. Seperti itu kegiatanku sampai aku tumbuh menjadi remaja dan sampai aku masuk SMA. Ketika masuk SMA, kerinduan untuk melayani itu masih tetap ada. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti pelayanan siswa Kristen di sekolah. Aku dilantik menjadi salah satu badan pengurus pelayanan itu, dan aku ada dalam divisi doa. Tugas divisi doa adalah mendoakan para badan pengurusnya ataupun mendoakan para guru dan para siswa yang ketika mengikuti ibadah menuliskan pokok-pokok doa mereka. Tiga tahun berada di SMA dan melayani, dan aku tetap ada dalam divisi doa itu. Sampai pada tahun 2015 ,yang adalah tahun memberikan banyak kesan manis dalam kehidupanku. Entah itu dalam pendidikanku, dalam kehidupan pribadiku, maupun dalam setiap pelayananku. Aku ditabiskan menjadi anggota sidi baru pada bulan Maret, tiga hari sesudah aku merayakan ulang tahunku yang ke-17. Aku juga lulus SMA pada bulan Mei. Dan aku juga tidak pernah melihat seseorang yang aku sukai ketika kelulusan itu. Banyak hal terjadi pada tahun itu. Saat hilang kontak dengan seseorang yang aku sukai ketika SMA, di dalam pelayananku di gereja aku juga menyukai temanku yang adalah teman kecilku. Kami tidak sangat dekat, namun kami tahu satu dengan yang lain. Kami pernah satu sekolah dan satu kelas, saat TK dan SMP. Dan aku menyukai dia. Kehidupanku terus berlanjut, aku diijinkan Tuhan untuk melanjutkan pendidikanku di luar pulau. Dan tiga hari sebelum keberangkatanku, temanku yang ku sukai itu masih sempat memberikan kesan dan nasihat-nasihat yang membekas dan membuatku terpesona. Pikirku dia adalah sangat baik, karena memikirkan keadaanku.
Jogja adalah tujuan Tuhan bagiku. Aku dibawa Tuhan dan dipelihara Tuhan di tempat ini. Aku mulai mengikuti perkuliahanku di semester pertama, terkesan baik-baik saja dan berjalan mulus , tanpa noda. Semester dua, semester tiga terlihat sama saja. Dan sampai pada awal semester empat, di mana kau tidak pernah paham dan mengerti apa yang akan terjadi. Pertemuan , kesan  atau lebih cocoknya jatuh cinta adalah kata yang tepat menjadi gambaran dari apa yang aku rasakan 25 februari 2017. Saat itu, aku sedang mengikuti retreat dari persekutuan mahasiswa Kristen di wisma yang cukup jauh dari kampus. Alasanku mengikuti kegiatan ini, awalnya hanya ingin menyibukan diri dan terkesan memiliki banyak kegiatan. Namun yang terjadi berbeda dari semua yang aku rencanakan dan itulah yang membuat aku merasa sangat luar biasa hingga saat ini dan merasa sangat dicintai.
Cerita singkat dariku di atas, mungkin tidak begitu terperinci dan jelas bagi kalian para pembaca. Namun yang aku ingin bagikan buat kalian semua adalah tentang bagaimana kepekaan kita terhadap pribadi yang mencintai kita. Pribadi itu adalah penulis kehidupan kita. Dia yang mengatur kehidupan kita. Dia yang melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita. Dia yang menganugerahkan proses dalam kehidupan kita. Dia yang memberikan kita ujian. Dia menjaga dan memelihara kita. Dan yang terpenting adalah Dialah yang paling mengerti dan paling mencintai kita. Aku lahir dalam keluarga Kristen, tapi aku adalah anak yang tidak direncanakan oleh kedua orang tuaku. Aku bukan anak yang dilahirkan ketika kedua orang tuaku telah sah dalam sebuah pernikahan kudus, baik secara gereja maupun negara. Kehadiranku tidak pernah direncanakan. Begitu pula dengan ayahku. Dia adalah orang yang tidak pernah diharapkan kehadirannya dalam dunia ini. Ibuku berbeda kasusnya, namun dalam masa kecil dan remajanya, dia tidak begitu merasakan kasih sayang orang tua, khususnya dari nenekku. Aku bercerita tentang ini, bukan karena aku merasa hidupkulah yang paling hancur dalam dunia ini, atau sebegitu buruknya kehidupan keluargaku. Aku dapat bercerita seperti ini, karena aku sudah dapat mengerti apa yang menjadi alasan segala hal yang ada di belakangku itu dapat terjadi. Aku bersukacita ada dalam kehidupan Kristenku. Aku bersukacita telah mengenal Yesus sejak kecil, berdoa, memuji-Nya, dan melakukan pelayanan dalam seluruh hidupku. Dan aku sangat bersyukur tentang itu. Aku dapat mengerti mengapa kedua orang tuaku begitu mencintai aku dan kedua adikku. Aku dapat mengerti dan sangat bangga dengan itu, karena kedua orang tuaku rela melakukan apapun untuk aku dan kedua adik-adikku. Dari situlah, aku mulai paham dan ingin terus mengerti bagaimana jalan kehidupanku, apa yang terjadi setiap waktunya, apa yang salah dan apa yang menjadi refleksi yang menjadi dasar untuk aku merubahnya.
Jika ditanya, benda apa yang menggambarkan kehidupanmu? Aku akan menjawab buku. Bukan karena aku suka membaca buku atau karena aku begitu mencintai menulis, namun karena aku tahu buku adalah benda yang tepat untuk menggambarkan cerita hidup. Ketika lahir, buku itu masih sangat bersih. Belum ada coret-coretan dan tanda-tanda apapun. Namun dalam perjalanan, karena fungsi dari buku itu adalah penulisnya harus menulis di atas kertas-kertasnya maka mau atau tidak mau kertas itu harus tercoret. Bapaku yang di surga, Yesus dan Roh Kudus adalah penulisnya. Aku mungkin belum begitu mengerti bagaimana menjelaskan pribadi itu, namun aku merasakannya dalam kehidupanku. Setiap hari, dalam perjalanan kehidupanku, aku ditekankan untuk belajar, aku diajarkan untuk bertahan, dan aku dikuatkan untuk semangat. Sesulit apapun keadaannya yang terpenting adalah jangan menyerah dan putus asa. Satu hal yang paling terkesan bagiku dari penulisku adalah ketika Dia menuliskan “ Capek, boleh. Istirahat, boleh. Tapi jangan mengeluh, jangan menyerah dan jangan menunda”. Kalimat sederhana yang mengingatkan dan sekejap mengubah aku dalam kehidupanku. Sesulit, seberapa kali kegagalanku, aku adalah yang paling tidak akan menyerah karena aku tahu pasti selalu ada pribadi yang memelihara aku.
JANGAN MENYERAH DALAM KEHIDUPANMU. JANGAN BERHENTI BERLARI DALAM KEHIDUPANMU. KAMU DICIPTAKAN UNTUK MENJADI PEMENANG DALAM KEHIDUPAN INI. SO, JANGAN TAKUT. PENULIS CERITA HIDUPMU ADALAH PRIBADI YANG MENGENAL DAN MENGERTI DIRIMU LEBIH DARI KAMU MENGENAL DIRIMU SENDIRI. DIALAH PRIBADI YANG PALING MENCINTAI DIRIMU. KAMU BERHARGA DI MATA-NYA. JANGAN MAIN-MAIN LAGI, FOKUSLAH BERLARI KE DEPAN. CERITAKAN DAN MINTA PADA-NYA APA YANG KAMU BUTUHKAN DAN PERLUKAN. SEKALI LAGI KARENA DIALAH PENULIS CERITA HIDUPMU.

SEMANGAT MENJALANI HIDUP PARA PEMENANG 😊💪

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer